Makam Mbah Leseh. Mbah Leseh adalah keturunan Mataram Islam dan merupakan abdi dalem atau Nayoko Projo Kanjeng Ratu Kalinyamat ( Retno Kencono ; Nama asli ). Saat itu beliau kelelahan dipantai untuk mencarikan tempat bertapa atau semedi Kanjeng Ratu Kalinyamat , yang terkenal dengan tapa Sindang Rekma ( bertapa dengan rambut terurai dan lamanya bertapa seakan –akan tidak mengenakan pakaian yang kelihatan badannya tertutup oleh rambutnya ) . Untuk mencari tempat pertapaan dibagi beberapa kelompok diantaranya , kelompok mbah Leseh dan kelompok Syayyid Utsman dan kelompok Mbah Suto Mangun Joyo Diceritakan karena kehausan dalam mencari tempat bertapa buat Kanjeng Ratu Kalinyamat sampai di pantai , melihat orang yang sedang mengambil bisik ditepi pantai , mintalah minum .Setelah diambilkan minum tiba – tiba beliau tidak ada atau hilang entah kemana ( bahasa Jawa : Lentang Sukmo ). Makam yang sekarang ada ini diyakini masyarakat dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit. Jika peziarah mandi di sekitar makam tersebut pada hari sabtu pahing, atas ijin dan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa ,penyakitnya akan sembuh .Ketokohan dari Mbah Leseh tersebut diwarisi dan digambarkan pada perayaan sedekah bumi JEMBUL Desa Tulakan sebagai tokoh yang menguasai Dukuh Drojo dan Pejing.
Makam Mbah Syayyid Utsman di pantai sebelah selatan Pulau Mondoliko yang berpasir putih.Awal cerita Mbah Syayid Utsman adalah salah satu nayoko projo dari Kanjeng Ratu Kalinyamat yang mempunyai kelebihan berdakwah atau menyebarkan ajaran agama islam. Dan Mbah syayid Utsman merupakan tokoh masyarakat yang pernah menyebarkan ajaran agama islam di daerah pekalongan , Pemalang dan batang .Sehingga banyak penziarah yang datang berziarah berasal dari kota tersebut.Serta Mbah Syayid Utsman tersebut menetap tinggal di Desa Toelakan ( sekarang ; Tulakan ) menjadi seorang ulama besar di desa Tulakan tersebut. Ketokohan Mbah Syayyid Utsman digambarkan pada Jembul Tulakan Krajan pada pesta sedekah bumi Desa Tulakan
